viewer

Kamis, 05 Juli 2012

Dokumen dari Sang Pengumpul Koin



Saya lelah, saya capai, saya ingin sekali istirahat, perut kenyang dan makan enak, tapi kenyataannya saat ini, detik ini berkata lain, saya lapar sekali dan belum makan. Saya tidak punya uang milik saya sendiri yang dihasilkan dari kerja keras. Tepatnya, belum.
Saya tahu bahwa bisnis merupakan sebuah perjalanan. Tapi mungkin baru saat ini saya merasakannya. Secara langsung.
Benar, seharusnya saya bisa saja duduk diam manis di rumah belajar keras sampai punya IP cemerlang 3, 84. Sebagai contohnya. Lalu setelah itu lulus sambil mengharapkan memiliki pekerjaan yang bagus dengan gaji bagus, atau mungkin memulai merangkak pelan-pelan dari bawah dan akhirnya memiliki gaji yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan.
Hanya saja, kalau sebenarnya tracknya sama saja, merangkak pelan-pelan dari 0,kenapa tidak mencobanya dengan milik sendiri?

karena saya cukup yakin dengan kekurangan yang saya miliki, dalam artian saya hebat di beberapa bidang dan cacat di bidang lain. Berhubungan dengan orang lain dalam jangka waktu yang cukup lama dan intens, dan melakukan sesuatu hanya selalu berdasar perintah orang lain, dengan ritme yang ditentukan orang lain rasanya bukanlah style yang cocok dengan karakter saya. Karenanya, saya sangat mengerti bahwa saya harus mengembangkan kemampuan berbasa-basi yang bisa dimanfaatkan untuk mencari uang: menjadi Duta Penjualan.

Duta penjualan. Bukankah itu sebutan yang cukup prestisius untuk didengarkan, atau dibayangkan? Karena  terusterang saya cukup alergi dengan istilah sales. Menyebalkan karena imej yang terbayang di kepala adalah seorang pemuda yang mengenakan setelan hitam putih sarat keringat dengan mulut berbusa yang merayu memaksa. Saya lebih suka melekatkan diri dengan sebutan Duta Penjualan, atau Distributor Barang, menurut saya istilah tersebut lebih mencerminkan seorang pemuda (dalam kasusku pemudi) mengenakan busana rapi yang modern dan memiliki pengetahuan luas tentang seni penjualan dan menghayati perannya sebagai seorang pemecah masalah kebuntuan para konsumennya.

Baik. Kembali ke masalah penjualan.
Uang adalah akar dari segalanya. Akar dari keinginan, atau dengan kata lain akar dari nafsu. Uang bisa mengasihi sesama, memberikan selimut hangat bagi gelandangan atau uang juga bisa mencekik leher pedagang asongan yang disuap sejuta rupiah oleh pemerintah sebagai uang tutp mulut atas pencabutan hak mereka berjualan untuk menyambung hidup.
Uang bisa menjadi ibu, dewi yang dengan senang hati memberikan dekapannya yang menyejukkan bagi anak-anak terlantar, tetapi bisa juga menjadi perampok yang membunuh satu keluarga tanpa ampun.
Uang adalah alasan manusia melakukan sesuatu, suka atau tidak. (saya tidak sedang berbicara tentang para sufi yang menjalani kehidupan sederhana atau semacamnya, saya sedang berbicara dalam konteks kehidupan yang kebanyakan).
Bagi saya sendiri, uang adalah pembebasan,uang berarti kebebasan. Dengannya saya bisa melakukan apa yang saya inginkan. Mengkayakan hati dan memanusiakan diri sendiri dengan berbagi manfaat kepada sesama.
Uang. Adalah transportasi yang tepat untuk menuju ke impian-impian, yang meskipun saat ini terlihat musykil mustahil.
Oleh kareenanya, menyadari bahwa saya bukanlah satu dari para pemilik otak cemerlang ber-IP brilian, saya akan mulai menempuh perjalanan panjang ini.
Mari kita mulai.
Dari yang paling sederhana, dari yang kecil, dan dari sekarang.


Salam Kaya,
^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tolong tinggalin pesan sebelum keluar ya? !^-^!