viewer

Rabu, 04 Juli 2012

aku




Aku menggigil. Serangan ini datang lagi. Rasa kalut menyiksa yang tidak akan berhenti sampai aku menggumamkan namanya, sekali lagi aku sakaw.
Dia adalah dia. Lelaki yang mengembuskan napasnya yang menjadi oksigen milikku. Dia adalah dia. Lelaki yang merengkuhku dalam peluknya dan membebatku dengan ikatan cinta melimpah yang membuatku mabuk. Dan dia adalah dia. Lelaki berbau harum yang meniduriku tiap dia bosan dengan pacarnya. Tuhan ciptakan dia dengan sempurna tanpa cacat.
Dan aku adalah sekadar aku. Aku adalah tembakau miliknya, aku adalah sarung kemulnya. Dan aku adalah dengkulnya yang menindihku di kala aku tidur. Aku adalah mimpinya sebagaimana dia nyata bagiku. Kekasihku.
Aku ingin menjadinya, ingin menjadi nadinya, bibirnya, lengan kukuhnya, tulang rusuknya, tawa renyahnya, kerling nakalnya, dan rahang seksinya.
Aku ingin menjadi hatinya, memenuhi jiwanya, memanggil sukmanya untuk bergabung bersamaku menari di altar impian dan khayal di atas panggung imaji. Aku ingin menjadi bengeknya, boroknya, kelupasan kulit arinya. Aku adalah bagiannya seperti kuyakini dia adalah bagianku. Sepercik daging yang terlontar jauh bertumbuh ketika aku lahir.
Dan namanya adalah tasbihku. Adalah musikku. Adalah genderang hidupku. Ingar bingarku.
Dan suaranya adalah berahiku. Adalah ingusku. Adalah taiku. Adalah organku. Adalah aku.
Aku memujanya memujanya memujanya mengangkatnya dalam tiap doaku sujudku sembahyangku. Kucecapi harihariku dengan menunggunya datang padaku. Benar, aku hebat dalam penantianku. Sepenuh hati menjaga kewarasanku di tengah kerinduan yang berapi-api dan menggelegak. Di antara serpihan tajam kebutuhan akan dirinya. Rindu-rindu-setengah mati merindu. Tak kupeduli dosa entah mereka bilang apa. Taik persetan anjing bajingan semua, memang aku adalah setan yang menjelma jadi manusia neraka. Apa peduliku? Yang penting waktu melesap menghunjam tanah saat aku bersamanya. Dunia berhenti bergerak karna senyumnya yang terlalu memesona. Dan aku miliknya, aku tahu. Aku tahu alam memujinya sebagaimana aku memujinya. Aku tahu pelangi menanggalkan bajunya saat melihat betapa indah lekuk tubuhnya. Aku tahu bulan kehilangan akal sehat saat dia berbisik di telingaku karna menginginkannya juga. Aku tahu gemintang tersandung saat mengintip kami bercumbu penuh gairah. Aku tahu semesta menaruh iri padaku saat dia mengecupku dan mendesahkan kalimat cintanya untukku. Aku tahu aku tahu aku tahu aku tahu. Aku sungguh tahu. Meski..

Meski rupanya tidak, rupanya alam sungguh tak seperti yang mereka katakan. Ingat saat Rani bilang berbusa-busa kalau dunia digerakkan oleh kekuatan semesta dengan rahasianya? The secret.
Bahwa dikala kita menginginkan dengan spenuh raga spenuh jiwa dan memanggil keinginan kita dalam kehidupan ia akan tiba di hadapan kita menyajikan realita?
Bukan. Rani salah. The secret adalah kebohongan. Karena tak peduli sebanyak ku meminta ku memimpi ku bayangkan, harapan itu tetap kosong. Palsu. Pilu. Hampa. Hanya kekecewaan yang menggantung pekat menebal gelap di langit-langit, udara melamun membumbungkan harapanku lalu membuangnya ke selokan.
Perih.
Rahasia itu tidak menghampiriku.
Ataukah aku terlalu kotor? Terlalu Jijik? Segumpal sampah nafsu yang menggelegak dan tak pernah surut dan tidur hingga aku tak pantas bersamanya?
Belahan hatiku, separuh jiwaku? Nafas hidupku? Simfoniku?
Aku mengerti bahwa aku, tak sempurna. Aku tak mampu bersanding dengan kelelakiannya. Tetapi pula aku tahu, cinta ini murni, seratus persen garansi. Namun aku tetap kalah. Kenapa?
Padahal namanya adalah doaku menjelang tidur. Pengantarku memulai hari yang menciumku di balik bayang-bayang dengan lahap. Dan aku tetap kalah. Tak mampu milikinya.
Ingin.
Aku ingin.
Aku ingin.
Benar-benar mengingininya. Sungguh penuh seluruh. Tiap selku. Tiap tetes darahku. Tiap serat dagingku meneriakkan namanya, dan, selalu........
Selorohan kotornya menggema di tiap sendi-sendi fikiranku.
“Cuma kamu yang bisa muasin aku.......”
Duh, betapa aku rela mati demi mendengarnya mengatakan itu, kau tahu? Tapi dia tetap pergi. Aku sendiri. Tinggal aku sendiri, menghitung pilinan jaring laba-laba di atap lemari sembari mencium bantal yang ranum akan harumnya, bau surgawi.
Ah cintaku..................................
Dewaku .......................
Betapa kata Cinta tidak pernah cukup untuknya, diriku yang lain..............










Hingga sebuah suara nyaring memenuhi indra ragawiku, mengantarku kembali ke depan layar, kefanaan drama kehidupan yang penuh irama musik membosankan, pisahkan aku dari kekasih.














“DANIEL! BANGUN!”

                                                                                                                        - . 23.49 Jumat 1 Juni-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tolong tinggalin pesan sebelum keluar ya? !^-^!