Kami adalah pengelana subuh, yang menjajaki kantung pasir waktu peradaban masa lalu, dan kini yang diantarai kerikil tajam.
Kami adalah gelandang terpinggirkan, yang jelajahi sudut sudut dusta yang gelap. Ngarai kebohongan yang curam.
Namun, kami juga adalah musafir sesat, yang mengail ikan di padang pasir keruh, mencoba peruntungan dengan bermain bersama tangan nasib,
Kami adalah aku.
Aku adalah kamu.
Kamu adalah kami.
Aku, kamu adalah kami.
***
Sebuah malam yang hening. Aku hanya sedang ingin memercikkan pikiranku yang kotor dan berembun, kepada kanvas suci kesayanganku.
Apa yang ingin kubicarakan?
Banyak.
Tapi takut untuk menuliskannya, bodoh sekali. Takut dinilai, takut menilai, meski bukankah itu inti kehidupan ini?
Jika nafas yang dipinjamkan Tuhan kepada kita akan diambil kembali nanti, bukankah sebenarnya seluruh tindakan sikap perilaku pikiran kita diawasi dan dinilai oleh Yang Maha Penilai?
Kita terbiasa menilai. Segala sesuuatu. Dengan, biasanya, pola tertentu seperti AMBAK, Apa Manfaatnya Bagiku. Apa yang bisa kuperoleh bila aku begini dan tidak begini? Apa yang bisa diberikan orang lain untukku? Mau tidak mau, suka tidak suka, prinsip AMBAK adalah hal universal yang terdapat di dalam diri manusia. Sama pastinya dengan hukum gravitasi, bahwa setiap manusia itu egois dan mementingkan dirinya sendiri.
Kata Les Giblin dalam bukunya Cara menguasai orang lain.
Well, bila seluruh kehidupan yang kita miliki adalah seperti ibarat sajadah yang dibentangkan ke lantai dan kita beribadah di atasnya, dalam lingkup yang sangat sangat luas. Ibadah, saat seseorang mampu memahami dan memaknai prinsip keimanan yang sebenar-benarnya, bahwa hidupnya, sseluruh utuhnya adalah untuk beribadah, maka segala aspek di dalam hidupnya akan dijadikan sarana untuk mendekatkan diri, sarana untuk mencintai Nya, sarana untuk dicintaiNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tolong tinggalin pesan sebelum keluar ya? !^-^!